Inilah Kenapa Semua Skenario AS dan Barat Untuk Hancurkan Iran selalu Gagal

mampus Amerika Foto :"Sebuah deklarasi kemerdekaan geopolitik yang langka di dunia modern. Dan dari situlah Amerika merasa dihina, Sejak saat itu, dendam Amerika terhadap Iran menjadi abadi. Sebaliknya, bagi Iran, melawan Amerika telah menjadi bagian dari identitas nasional."(sc)

Bagian 4

REMOVESRAEL – Mereka tidak menawarkan kemewahan, mereka menawarkan perjuangan. Dan itu jauh lebih berbahaya bagi sistem yang dibangun di atas konsumsi dan ketundukan.

Setiap khotbah Jumat di Teheran, setiap pidato pemimpin tertinggi dan setiap simbol syahid yang terpajang di jalanan semuanya adalah propaganda hidup.

Namun bukan propaganda palsu. Ini adalah pengingat terus-menerus bahwa hidup dalam tekanan tidak harus berarti hidup dalam ketakutan. Dan inilah yang tidak dimiliki oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab atau Mesir.

Negara-negara itu punya senjata canggih, pasukan modern, bahkan perjanjian keamanan dengan Amerika.

Namun, tak satu pun dari mereka memiliki rakyat yang siap mati demi gagasan negaranya. Iran punya itu.

Ideologi ini ditanamkan sejak sekolah, diperkuat lewat ritual keagamaan, dibakar dalam sejarah panjang perlawanan, dan dijaga oleh sistem politik yang tidak sekadar ingin menang, tapi ingin menegakkan sesuatu yang dianggap lebih tinggi dari kekuasaan, martabat bangsa. Bahkan ketika muncul protes internal, ketika generasi muda menuntut perubahan, fondasi ideologi itu tetap bertahan.

Karena pada titik terdalam rakyat Iran tahu satu hal yang dunia sering lupakan. Mereka bukan sekadar hidup untuk nyaman, tetapi juga hidup untuk bermakna. Inilah yang paling ditakuti oleh Amerika dan sekutunya.

Bukan karena Iran akan menaklukkan dunia, tapi karena keberanian Iran untuk tidak menyerah akan menjadi inspirasi bagi negara lain.

Barat mungkin bisa menjatuhkan presiden, bisa meruntuhkan ekonomi, tetapi mereka tidak akan pernah bisa membunuh ide yang telah lahir dari darah, duka, dan keyakinan.

Iran bukanlah negara yang sempurna. Mereka memiliki krisis, luka, dan celah di banyak sisi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah mereka lakukan. Menyerah.

Mereka bertahan bukan karena kekuatan militer yang luar biasa, melainkan karena keteguhan yang tak tergoyahkan.

Mereka bukan negara adidaya, tetapi mereka tidak bisa dihancurkan. Dan hal itu jauh lebih menakutkan daripada bom nuklir.

Amerika sudah menjatuhkan Sadam dan Gaddafi bahkan menghancurkan negara-negara dengan satu jentikan. Tapi Iran tetap berdiri, tetap melawan, tetap menjadi duri di tenggorokan hegemoni Barat.

Jadi sekarang pertanyaannya bukan lagi mengapa Iran tidak takut dihancurkan?

Pertanyaan yang sesungguhnya adalah siapa sebenarnya yang ketakutan Iran atau justru Amerika?

Bayangkan sebuah negara yang dikepung dari segala arah. negara ini dibatasi oleh embargo dan sanksi ekonomi paling brutal dalam sejarah modern. Jenderalnya tewas oleh serangan drone.

Ilmuwan nuklirnya ditembak di jalanan, diserang secara langsung, maupun lewat proxi. Diblokade dari sistem keuangan dunia, dikepung pangkalan militer Amerika, bahkan dicap sebagai poros kejahatan oleh Presiden Amerika Serikat.

ini tak pernah tunduk pada Barat. Ini bukanlah kisah tentang negara adidaya atau blok militer raksasa seperti NATO.

Ini adalah kisah Iran, satu-satunya negara di Timur Tengah yang masih berani secara terbuka menantang hegemoni Amerika.

Ketika pemimpin seperti Sadam dihancurkan, Gadvi dibantai, dan Asad nyaris tumbang, Iran tetap kokoh berdiri.

Bukan karena Barat tidak mencoba, tapi karena semua skenario untuk menghancurkannya selalu gagal.

Lantas apa yang membuat Iran begitu tangguh? Apa sebenarnya rahasia di balik kemampuannya bertahan dari gempuran militer, ekonomi, diplomasi, dan intelijen Barat selama lebih dari 4 dekade? Dan yang terpenting siapa sebenarnya yang takut Iran atau justru Amerika Serikat?

Untuk memahami mengapa Iran mampu bertahan dalam tekanan, kita harus kembali ke tahun 1979, tahun yang menjadi mimpi buruk bagi Amerika Serikat.

Sebelum revolusi, Iran adalah sekutu terdekat Washington di Timur Tengah. Di bawah kekuasaan Syah Muhammad Reza Pahlawi, Iran menjadi benteng antikomunis yang didukung penuh oleh CIA dan Pentagon.

Senjata Amerika mengalir deras dan minyak Iran dipakai untuk menopang ekonomi Barat.

Namun di balik kemewahan istana Syah, rakyat Iran hidup dalam ketakutan. Mereka dibungkam oleh polisi rahasia yang disebut Savak, disiksa di penjara bawah tanah dan dikhianati oleh rezim yang menjual kedaulatan demi kepentingan asing.

Semua penindasan itu meledak pada Februari tahun 1979. Sebuah revolusi rakyat yang dipimpin oleh ulama karismatik bernama Ayatollah Ruhollah Khomeini berhasil menggulingkan kekuasaan Syiah.

Namun revolusi ini bukan sekadar pergantian rezim. Ini adalah penolakan total terhadap dominasi Barat. Iran tidak hanya menyingkirkan monarki, tetapi juga menutup pintunya rapat-rapat bagi hegemoni Amerika.

Slogan revolusi Iran sangat jelas dan tegas. na syarqiah wala ghar, tidak ke timur, tidak ke barat.

Sebuah deklarasi kemerdekaan geopolitik yang langka di dunia modern. Dan dari situlah Amerika merasa dihina dan puncaknya terjadi pada November 1979 ketika mahasiswa Iran menyandera 52 diplomat Amerika di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran.

Selama 44 hari, dunia menyaksikan simbol kekuasaan Washington dipermalukan di layar televisi.

Sejak saat itu, dendam Amerika terhadap Iran menjadi abadi. Sebaliknya, bagi Iran, melawan Amerika telah menjadi bagian dari identitas nasional.

Sumber : VIVA.CO.ID

Pages: 1▪️ 2▪️ 3▪️ 4

Posting Komentar

0 Komentar