Inilah Kenapa Semua Skenario AS dan Barat Untuk Hancurkan Iran selalu Gagal

operasi eagle claw 1980 gagalFoto :"Operasi Eagle Claw(cakar elang) tahun 1980, saat misi penyelamatan sandera AS di Teheran gagal total di Gurun Tabas, Iran, mengakibatkan beberapa helikopter dan pesawat AS hancur akibat badai pasir, kecelakaan, dan serangan, yang mengakhiri operasi dan menyebabkan 8 tentara AS tewas."(sc)



BAG 2

Removesrael – Dan puncak dari semua itu terjadi di tahun 2020. Ketika Amerika membunuh Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad, dunia menahan napas. Banyak yang mengira Iran akan gentar, akan menahan diri, atau bahkan takut.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, Iran menembakkan lebih dari 12 rudal balistik ke pangkalan militer Amerika di Ain Al-Assad, Irak.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah negara secara terbuka menyerang pasukan Amerika Serikat. Pentagon sempat bungkam.

Baru beberapa hari kemudian mereka mengaku lebih dari 100 tentara Amerika Serikat mengalami cedera otak traumatis akibat ledakan rudal. Itulah pesan Iran.

"Kami mungkin diserang, tapi kami tidak akan diam. Kami akan membalas dan kami tidak takut."

Iran tahu satu hal yang tak dipahami banyak negara di sekitarnya. Dalam perang modern, kekuatan sejati bukan hanya pada rudal, tapi pada pengaruh.

Bukan seberapa banyak pasukan yang kamu miliki, melainkan seberapa jauh tanganmu bisa menjangkau tanpa harus mengerahkan tentara sendiri. Dan dari situlah lahir strategi Iran yang paling ditakuti.

Perang lewat proxi. Iran tidak melawan secara langsung. Sebaliknya mereka menyusup, mengakar, dan membentuk sebuah jaringan, sebuah poros bayangan yang menjalar dari Beirut, Damaskus, Baghdad hingga Sanaa.

Dikenal dengan nama yang membuat banyak diplomat Barat gelisah, poros perlawanan. Di Lebanon ada Hizbullah.

Bagi Israel, kelompok ini adalah mimpi buruk yang tak pernah usai. Mereka bukan sekadar milisi. Mereka pasukan tempur terlatih dengan ribuan roket. Sistem terowongan bawah tanah dan pengalaman tempur melawan invasi.

Tahun 2006 mereka sukses menghentikan serangan besar Israel dan hingga hari ini mereka tetap berdiri kuat terorganisir dan loyal pada Teheran.

Hizbullah bukan hanya menjaga Lebanon tetapi menjaga pintu utara, Israel terus berada dalam ancaman di Lebanon.

Setelah jatuhnya Saddam Husein, Iran tidak perlu lagi menembakkan rudal.

Mereka cukup mengirim pengaruh. Iran dukung milisi-milisi Syiah seperti Kata'ib Hizbullah, IRGC dan kelompok dalam Asa'ib Ahl al-Haq.

Kelompok-kelompok ini bukan hanya punya senjata. Mereka kini punya kursi di parlemen. Mereka kendalikan kementerian. Mereka mengatur kebijakan luar negeri Irak lebih dekat ke Teheran daripada ke Washington.

Dan ketika Amerika Serikat masih sibuk mencari sekutu, Iran sudah menanam loyalis di jantung politik Irak.

Di Suriah, Iran tidak membiarkan rezim Bashar al-Assad jatuh ke tangan pemberontak dan intervensi asing.

Ribuan pasukan proksi dikirim. Bukan tentara Iran, melainkan milisi dari Afghanistan, Pakistan, dan Irak.

Semua dibentuk dan dilatih Pasdaran (Garda Revolusi Iran atau IRGC ). Hasilnya Assad selamat, rezim tetap berdiri(meskipun pada akhirnya Assad harus jatuh karena mengharapkan janji janji Liga Arab dan meninggalkan Iran).

Pengaruh Iran di Damaskus Semakin Kuat Di Yaman, jauh di ujung selatan Jazirah Arab, Iran membangun aliansi dengan hati.

Ini bukan sekadar kelompok perlawanan. Mereka kini jadi kekuatan militer yang mampu menyerang kilang minyak Arab Saudi.

Bahkan mengancam jalur pelayaran Laut Merah. Iran tidak perlu kapal perang di Yaman. Cukup dengan kirim pelatihan teknologi dan doktrin. Sisanya dilakukan oleh proxi.

Strategi ini membuat Iran menjadi satu-satunya kekuatan di Timur Tengah yang mampu mengepung Israel dan sekutu-sekutunya dari segala arah tanpa harus menginvasi siapapun.

Inilah yang membuat frustasi Barat. Iran tidak bermain di papan catur yang biasa.

Mereka menciptakan papan baru dengan aturan mereka sendiri. Dan yang paling berbahaya, para proxsi ini bukan hanya loyal secara militer, tetapi secara ideologis.

Mereka tidak bertempur demi uang. Mereka bertempur demi gagasan, demi perlawanan. Itulah alasan mengapa kekuatan ini tidak bisa dibeli atau dihancurkan hanya dengan serangan udara.

Bagi negara lain, sanksi ekonomi adalah vonis mati. Namun bagi Iran, sanksi adalah medan latihan. Puluhan tahun dikucilkan dari sistem keuangan global justru membuat Iran belajar sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara-negara kaya minyak di sekitarnya.

Cara bertahan hidup tanpa disuapi dunia. Sejak tahun 1979, Iran sudah terbiasa dihukum. Embargo minyak, pemblokiran aset, larangan impor teknologi, pengucilan dari sistem Swift.

Semua itu bukan hal baru. Tapi yang membedakan Iran dengan Libya atau Irak adalah satu hal, mereka tidak panik.

Mereka mampu beradaptasi. Ketika Amerika melumpuhkan Bank Iran, mereka menciptakan sistebr >
m perbankan alternatif. Saat perusahaan barat mundur, mereka bangun industri dalam negeri.

Dan ketika dunia memboikot ekspor minyak Iran, mereka tidak berhenti menjual.

Mereka justru menciptakan pasar bayangan. Minyak Iran terus mengalir ke Cina, Suriah, bahkan India menggunakan kapal tanpa bendera lewat jalur tidak resmi dan dibayar dalam mata uang non dolar.

Iran bahkan menjadi pionir dalam penggunaan kripto untuk menghindari sanksi.

Pada tahun 2022, pemerintah Iran mengesahkan penggunaan mata uang digital untuk membayar impor.

Sebuah langkah yang bahkan banyak negara maju belum berani melakukan secara terbuka.

Lebih dari itu, Iran menjalin perjanjian strategis jangka panjang dengan negara-negara anti Barat.

Contohnya kesepakatan monumental dengan China pada tahun 2021 senilai 400 miliar dolar selama 25 tahun. Isinya adalah investasi besar-besaran di bidang energi, transportasi, dan militer.

China mendapatkan minyak murah, sementara Iran mendapatkan perisai diplomatik dan ekonomi.

Nah, yang lebih penting ini adalah jalan bagi Iran untuk bertahan tanpa harus tunduk kepada IMF atau Bank Dunia. Iran Merapat ke Rusia.

Ketika Barat sibuk mengisolasi Moskow pasca invasi Ukraina, Iran justru mempererat hubungan mereka. Memasuk drone tempur, membuka jalur barter, dan mengoordinasikan kebijakan energi.

Kedua negara yang sama-sama terkena sanksi, tapi justru saling menguatkan. Dari dalam negeri, Iran tidak membangun gaya hidup mewah seperti negara-negara teluk. Mereka fokus pada swasembada pangan dan energi.

Mereka menciptakan industri otomotif nasional, teknologi medis lokal, bahkan reaktor nuklir buatan sendiri. Apakah semuanya berjalan mulus? Tentu tidak.

Seperti banyak negara lain yang menghadapi sanksi dan isolasi, rakyat Iran juga harus bergulat dengan tekanan ekonomi, inflasi tinggi, dan tantangan ketenagakerjaan.

Suara-suara protes pun sesekali muncul sebagai ekspresi dari dinamika sosial yang hidup. Namun yang membedakan, rakyat Iran telah terbiasa menghadapi tekanan semacam ini.

Bagi mereka, kesulitan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari harga yang harus dibayar demi mempertahankan prinsip dan perlawanan. Inilah yang membuat Washington frustrasi.

Semua tombol ekonomi sudah ditekan, semua blokade sudah diberlakukan. Namun sistem Iran tidak tumbang.

Bahkan dalam banyak hal, sistem mereka justru menjadi semakin kebal. Dan inilah fakta yang paling menakutkan bagi Barat. Iran tidak butuh izin siapapun untuk tetap hidup. Pada tanggal 3 Januari 2020, dunia terhenyak.

justru menjadi semakin kebal. Dan inilah fakta yang paling menakutkan bagi Barat. Iran tidak butuh izin siapapun untuk tetap hidup. Pada tanggal 3 Januari 2020, dunia terhenyak.

Pages: 1▪️ 2▪️ 3▪️ 4

Posting Komentar

0 Komentar