TRUMP DAN IMPERIALISME KANIBAL

Trump dajjal cannibalFoto :"Ketika ruang eksploitasi eksternal menyempit, imperium mencari mangsa baru: sesamanya sendiri. Donald Trump tidak menciptakan, tetapi menelanjangi watak imperial Amerika."(ilustrasi)

REMOVESRAEL – Setiap imperium melalui fase kelahiran, pertumbuhan, pengerasan, dan akhirnya keruntuhan. Keruntuhan paling brutal terjadi ketika imperium mulai memangsa dirinya sendiri—saat kekuasaan tak lagi hanya menindas yang lemah, tetapi beralih memakan sekutu ideologisnya sendiri, sesama penjajah, bahkan tanah leluhurnya. Amerika Serikat kini menghadapi Eropa bukan sebagai mitra, melainkan sebagai mangsa.

Pasca Perang Dunia II, Amerika tampil sebagai pelindung Eropa yang luluh lantak, membentuk hubungan tak setara yang berubah dari aliansi menjadi ketergantungan dan kepatuhan. Bersama-sama, mereka mendominasi dunia berkembang—khususnya masyarakat Muslim—sebagai objek eksploitasi dan pengamanan. Namun, ketika ruang eksploitasi eksternal menyempit, imperium mencari mangsa baru: sesamanya sendiri. Donald Trump tidak menciptakan, tetapi menelanjangi watak imperial Amerika.

Diplomasi diganti ancaman, hukum internasional diabaikan, dan aliansi direduksi jadi transaksi sepihak. Contoh simbolisnya adalah keinginan menguasai Greenland—wilayah Denmark sekutu NATO. Ini bukan imperialisme klasik terhadap yang lemah, melainkan imperialisme kanibal yang memangsa sesama penjajah. Tekanan terhadap Jerman (Nord Stream), ancaman tarif Uni Eropa, dan pemerasan melalui kontribusi NATO mengonfirmasi pola ini: Amerika tak lagi memimpin, tetapi memeras aliansinya sendiri.

Eropa mulai merespons dengan konsolidasi militer, memperkuat kehadiran di Greenland, dan serius membahas otonomi strategis. Para pemimpinnya menegaskan kedaulatan bukanlah barang tawar-menawar. Kepatuhan buta mulai ditinggalkan. Imperium Amerika tak lagi memimpin tatanan, tetapi menggerogotinya dari dalam.

Ucapan Pemimpin Iran Ayatollah Khamenei—yang menyebut Amerika sebagai “setan besar” yang akan hancur—dulu dicemooh. Kini, diagnosis itu tampak tajam. Amerika memang tidak tumbang oleh serangan luar, tetapi mulai sekarat karena memakan sekutunya sendiri. Keteguhan Iran yang tak tunduk selama puluhan tahun berhasil meruntuhkan mitos kesatuan Barat dan menunjukkan bahwa wibawa Amerika telah retak.

Kekuasaan yang dibangun atas keserakahan dan penindasan tak akan abadi. Trump adalah gejala kontradiksi lama: wajah imperium yang kehilangan kemampuan memimpin dan hanya bisa memaksa. Imperialisme kanibal adalah fase terakhir—saat imperium tak lagi mampu bedakan antara sekutu dan musuh, antara memimpin dan menghancurkan. Dalam kebingungan itu, keruntuhan menjadi keniscayaan yang lahir dari dalam.

Sumber : Ditulis oleh DR Muhsin Labib

Posting Komentar

0 Komentar