Foto :"Ini adalah kisah Iran, satu-satunya negara di Timur Tengah yang masih berani secara terbuka menantang hegemoni Amerika. Semua skenario Barat untuk menghancurkan Iran selalu gagal. Lantas apa yang membuat Iran begitu tangguh?"(sc)
REMOVESRAEL – Ditengah memanasnya kabar antara Iran dan Amerika Serikat(AS) , Ternyata Iran tak sedikit pun merasa gentar dengan negara tersebut, bahkan secara terang terangan mengaku siap meladeni serangan Washington.
Usut punya usut, belakangan ini terungkap sesuatu yang mengejutkan soal kenapa Iran sangat percaya diri menghadapi Amerika Serikat.
Dikutip dari laman YouTube Histopel, Iran adalah sebuah negara yang dikepung dari segala arah.
Selama puluhan tahun, Iran telah dibatasi oleh embargo dan sanksi ekonomi paling brutal dalam sejarah modern.
Jenderalnya tewas oleh serangan drone. Ilmuwan nuklirnya ditembak di jalanan, diserang secara langsung, maupun lewat proxi.
Diblokade dari sistem keuangan dunia, dikepung pangkalan militer Amerika, bahkan dicap sebagai poros kejahatan oleh Presiden AS.
Namun mereka dengan tegas tak pernah tunduk pada Barat. Ini bukanlah kisah tentang negara adidaya atau blok militer raksasa seperti NATO.
Ini adalah kisah Iran, satu-satunya negara di Timur Tengah yang masih berani secara terbuka menantang hegemoni Amerika.
Ketika pemimpin seperti Saddam dihancurkan, Gaddafi dibantai, dan Asad nyaris tumbang, Iran tetap kokoh berdiri.
Bukan karena Barat tidak mencoba, tapi karena semua skenario untuk menghancurkan Iran selalu gagal.
Lantas apa yang membuat Iran begitu tangguh?
Apa sebenarnya rahasia di balik kemampuannya bertahan dari gempuran militer, ekonomi, diplomasi, dan intelijen Barat selama lebih dari 4 dekade?
Dan yang terpenting siapa sebenarnya yang takut Iran? atau justru AS sendirilah yang ketakutan!
Untuk memahami mengapa Iran mampu bertahan dalam tekanan, kita harus kembali ke tahun 1979, tahun yang menjadi mimpi buruk bagi AS.
Sebelum Revolusi Islam, Iran adalah sekutu terdekat Washington di Timur Tengah.
Di bawah kekuasaan Raja Mohammad Reza Pahlavi, Iran menjadi benteng antikomunis yang didukung penuh oleh CIA dan Pentagon. Senjata Amerika mengalir deras dan minyak Iran dipakai untuk menopang ekonomi Barat.
Namun di balik kemewahan istana Pahlavi, rakyat Iran hidup dalam ketakutan. Mereka dibungkam oleh polisi rahasia yang disebut savak, disiksa di penjara bawah tanah dan dikhianati oleh rezim yang menjual kedaulatan demi kepentingan asing.
Semua penindasan itu meledak pada Februari tahun 1979. Sebuah revolusi rakyat yang dipimpin oleh ulama karismatik bernama Ayatollah Sayyid Ruhollah Musawi Khomeini yang berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Pahlavi.
Namun revolusi ini bukan sekadar pergantian rezim. Ini adalah penolakan total terhadap dominasi Barat. Iran tidak hanya menyingkirkan monarki, tetapi juga menutup pintunya rapat-rapat bagi hegemoni Amerika. Slogan revolusi Iran sangat jelas dan tegas, tidak ke Timur, tidak ke Barat.
Sebuah deklarasi kemerdekaan geopolitik yang langka di dunia modern.
Dan dari situlah Amerika merasa dihina, dan puncaknya terjadi pada November 1979 ketika mahasiswa Iran menyandera 52 diplomat Amerika di Kedutaan Besar AS di Teheran.
Selama 44 hari, dunia menyaksikan simbol kekuasaan Washington dipermalukan di layar televisi. Sejak saat itu, dendam Amerika terhadap Iran menjadi abadi.
Sebaliknya, bagi Iran, melawan Amerika telah menjadi bagian dari identitas nasional. Tak lama setelah insiden penyanderaan itu, Washington menjatuhkan sanksi, Iran dikeluarkan dari sistem ekonomi internasional!
Dana miliaran dolar dibekukan dan lebih buruk lagi. Satu tahun kemudian, Irak di bawah Saddam Hussein dengan restu diam-diam dari Amerika Serikat dan dukungan dana dari Arab Saudi menyerang Iran.
Perang Iran - Irak menjadi ujian pertama bagi republik Islam yang masih muda. Dan dari situlah Teheran belajar satu hal penting.
Tidak ada sekutu sejati di dunia ini kecuali kekuatan diri sendiri. Setelah revolusi, Iran menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi bergantung pada siapapun. Tak ada lagi jet tempur Amerika, tak ada lagi suku cadang dari Eropa. Dunia menutup pintu!
Kemudian di tahun 1980, sebelum luka revolusi kering, Iran langsung dilempar ke dalam neraka, perang melawan Irak.
Saddam Hussein yang saat itu menjadi kesayangan Barat menyerbu Iran dengan tank-tank buatan Soviet, senjata kimia buatan Jerman, dan dukungan logistik dari CIA.
Perang ini bukan sekadar konflik dua negara, melainkan upaya kolektif negara-negara besar untuk menghentikan revolusi Islam di perbatasan mereka. Barat ingin revolusi itu mati di dalam negeri.
Namun, Iran memilih bertahan. 8 tahun lamanya, ratusan ribu nyawa melayang dan kota-kota hancur lebur. Namun Iran tidak menyerah.
Justru, dari reruntuhan itulah strategi pertahanan mereka lahir dan berkembang. Iran sadar bahwa kekuatan militer bukan hanya bergantung pada jumlah tank atau pesawat tempur, tapi soal kemampuan bertahan, membalas, dan mengembangkan sistem pertahanan tanpa izin dari siapapun.
Karena itu, mereka mulai membangun industri militer dalam negeri dengan tangan sendiri.
Hari ini Iran tak lagi membeli senjata dari barat. Mereka memproduksi sendiri. Mereka memiliki rudal balistik jarak menengah seperti Shahab, Sijjil, dan Khoramsahr.
Deretan senjata itu mampu menjangkau hingga 2000 km cukup untuk menghantam Tel Aviv, Riyad atau pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar dan Bahrain.
Mereka tidak mengembangkan ini untuk pamer, tapi karena mereka tahu kekuatan nyata bukanlah terletak pada tank di darat, tapi pada kemampuan menghancurkan dari jarak jauh. Iran juga menjadi salah satu negara pertama di Timur Tengah yang berhasil mengembangkan drone tempur secara mandiri.
Bukan sekadar drone pengintai, tetapi drone bersenjata seperti syahid 129 dan Muhajir 6 yang bisa membawa rudal, memantau medan perang, bahkan menyerang target jauh di luar wilayah Iran.
Bahkan, drone buatan mereka kini digunakan Rusia dalam perang di Ukraina menjadi bukti nyata bahwa teknologi militer Iran bukan hanya bertahan, tapi sudah diekspor ke medan perang global.
Jangan lupakan IRGC, Islamic Revolutionary Guard Corp atau yang biasa disebut Pasdaran. Ini bukan sekadar cabang militer, melainkan sebuah mesin ideologi.
Mereka memiliki angkatan laut sendiri, angkatan udara sendiri, sistem pertahanan sendiri, bahkan jaringan bisnis mereka sendiri.
Pasdaran tidak tunduk pada militer reguler. Mereka hanya tunduk pada pemimpin tertinggi. Dan mereka bukan tentara biasa. Mereka adalah penjaga revolusi. Mereka dilatih untuk bertahan, menyerang, dan mengatur ulang peta kekuasaan di Timur Tengah.
Kekuatan Iran bukan terletak pada parade militer yang megah, tetapi pada kemampuannya untuk membalas secara diam-diam, menghantam tanpa peringatan, dan bertahan meskipun dunia memblokade semua jalur logistiknya.
Dan puncak dari semua itu terjadi di tahun 2020. Ketika Amerika membunuh Jenderal Qasem Soleimani di Baghdad, dunia menahan napas. Banyak yang mengira Iran akan gentar, akan menahan diri, atau bahkan takut.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Iran menembakkan lebih dari 12 rudal balistik ke pangkalan militer Amerika di Ain Al-Assad, Irak.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah negara secara terbuka menyerang pasukan Amerika Serikat. Pentagon sempat bungkam.
Baru beberapa hari kemudian mereka mengaku lebih dari 100 tentara Amerika Serikat mengalami cedera otak traumatis akibat ledakan rudal. Itulah pesan Iran.
"Kami mungkin diserang, tapi kami tidak akan diam. Kami akan membalas dan kami tidak takut."
Iran tahu satu hal yang tak dipahami banyak negara di sekitarnya. Dalam perang modern, kekuatan sejati bukan hanya pada rudal, tapi pada pengaruh.
Bukan seberapa banyak pasukan yang kamu miliki, melainkan seberapa jauh tanganmu bisa menjangkau tanpa harus mengerahkan tentara sendiri. Dan dari situlah lahir strategi Iran yang paling ditakuti.
Perang lewat proxi. Iran tidak melawan secara langsung. Sebaliknya mereka menyusup, mengakar, dan membentuk sebuah jaringan, sebuah poros bayangan yang menjalar dari Beirut, Damaskus, Baghdad hingga Sanaa.
Dikenal dengan nama yang membuat banyak diplomat Barat gelisah, poros perlawanan. Di Lebanon ada Hizbullah.
Bagi Israel, kelompok ini adalah mimpi buruk yang tak pernah usai. Mereka bukan sekadar milisi. Mereka pasukan tempur terlatih dengan ribuan roket. Sistem terowongan bawah tanah dan pengalaman tempur melawan invasi.
Tahun 2006 mereka sukses menghentikan serangan besar Israel dan hingga hari ini mereka tetap berdiri kuat terorganisir dan loyal pada Teheran.
Hizbullah bukan hanya menjaga Lebanon tetapi menjaga pintu utara, Israel terus berada dalam ancaman di Lebanon.
Setelah jatuhnya Saddam Husein, Iran tidak perlu lagi menembakkan rudal.
Mereka cukup mengirim pengaruh. Iran dukung milisi-milisi Syiah seperti Kata'ib Hizbullah, IRGC dan kelompok dalam Asa'ib Ahl al-Haq.
Kelompok-kelompok ini bukan hanya punya senjata. Mereka kini punya kursi di parlemen. Mereka kendalikan kementerian.
Mereka mengatur kebijakan luar negeri Irak lebih dekat ke Teheran daripada ke Washington.
Dan ketika Amerika Serikat masih sibuk mencari sekutu, Iran sudah menanam loyalis di jantung politik Irak.
Di Suriah, Iran tidak membiarkan rezim Bashar al-Assad jatuh ke tangan pemberontak dan intervensi asing.
Ribuan pasukan proksi dikirim. Bukan tentara Iran, melainkan milisi dari Afghanistan, Pakistan, dan Irak.
Semua dibentuk dan dilatih Pasdaran (Garda Revolusi Iran atau IRGC ). Hasilnya Assad selamat, rezim tetap berdiri(meskipun pada akhirnya Assad harus jatuh karena mengharapkan janji janji Liga Arab dan meninggalkan Iran).
Pengaruh Iran di Damaskus Semakin Kuat Di Yaman, jauh di ujung selatan Jazirah Arab, Iran membangun aliansi dengan hati.
Ini bukan sekadar kelompok perlawanan.
Mereka kini jadi kekuatan militer yang mampu menyerang kilang minyak Arab Saudi.
Bahkan mengancam jalur pelayaran Laut Merah. Iran tidak perlu kapal perang di Yaman. Cukup dengan kirim pelatihan teknologi dan doktrin. Sisanya dilakukan oleh proxi.
Strategi ini membuat Iran menjadi satu-satunya kekuatan di Timur Tengah yang mampu mengepung Israel dan sekutu-sekutunya dari segala arah tanpa harus menginvasi siapapun.
Inilah yang membuat frustasi Barat. Iran tidak bermain di papan catur yang biasa.
Mereka menciptakan papan baru dengan aturan mereka sendiri. Dan yang paling berbahaya, para proxsi ini bukan hanya loyal secara militer, tetapi secara ideologis.
Mereka tidak bertempur demi uang. Mereka bertempur demi gagasan, demi perlawanan. Itulah alasan mengapa kekuatan ini tidak bisa dibeli atau dihancurkan hanya dengan serangan udara.
Bagi negara lain, sanksi ekonomi adalah vonis mati. Namun bagi Iran, sanksi adalah medan latihan. Puluhan tahun dikucilkan dari sistem keuangan global justru membuat Iran belajar sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara-negara kaya minyak di sekitarnya.
Cara bertahan hidup tanpa disuapi dunia. Sejak tahun 1979, Iran sudah terbiasa dihukum. Embargo minyak, pemblokiran aset, larangan impor teknologi, pengucilan dari sistem Swift.
Semua itu bukan hal baru. Tapi yang membedakan Iran dengan Libya atau Irak adalah satu hal, mereka tidak panik.
Mereka mampu beradaptasi. Ketika Amerika melumpuhkan Bank Iran, mereka menciptakan sistebr > m perbankan alternatif. Saat perusahaan barat mundur, mereka bangun industri dalam negeri.
Dan ketika dunia memboikot ekspor minyak Iran, mereka tidak berhenti menjual.
Mereka justru menciptakan pasar bayangan. Minyak Iran terus mengalir ke Cina, Suriah, bahkan India menggunakan kapal tanpa bendera lewat jalur tidak resmi dan dibayar dalam mata uang non dolar.
Iran bahkan menjadi pionir dalam penggunaan kripto untuk menghindari sanksi.
Pada tahun 2022, pemerintah Iran mengesahkan penggunaan mata uang digital untuk membayar impor.
Sebuah langkah yang bahkan banyak negara maju belum berani melakukan secara terbuka.
Lebih dari itu, Iran menjalin perjanjian strategis jangka panjang dengan negara-negara anti Barat.
Contohnya kesepakatan monumental dengan China pada tahun 2021 senilai 400 miliar dolar selama 25 tahun. Isinya adalah investasi besar-besaran di bidang energi, transportasi, dan militer.
China mendapatkan minyak murah, sementara Iran mendapatkan perisai diplomatik dan ekonomi.
Nah, yang lebih penting ini adalah jalan bagi Iran untuk bertahan tanpa harus tunduk kepada IMF atau Bank Dunia. Iran Merapat ke Rusia.
Ketika Barat sibuk mengisolasi Moskow pasca invasi Ukraina, Iran justru mempererat hubungan mereka. Memasuk drone tempur, membuka jalur barter, dan mengoordinasikan kebijakan energi.
Kedua negara yang sama-sama terkena sanksi, tapi justru saling menguatkan. Dari dalam negeri, Iran tidak membangun gaya hidup mewah seperti negara-negara teluk. Mereka fokus pada swasembada pangan dan energi.
Mereka menciptakan industri otomotif nasional, teknologi medis lokal, bahkan reaktor nuklir buatan sendiri. Apakah semuanya berjalan mulus? Tentu tidak.
Seperti banyak negara lain yang menghadapi sanksi dan isolasi, rakyat Iran juga harus bergulat dengan tekanan ekonomi, inflasi tinggi, dan tantangan ketenagakerjaan.
Suara-suara protes pun sesekali muncul sebagai ekspresi dari dinamika sosial yang hidup. Namun yang membedakan, rakyat Iran telah terbiasa menghadapi tekanan semacam ini.
Bagi mereka, kesulitan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari harga yang harus dibayar demi mempertahankan prinsip dan perlawanan. Inilah yang membuat Washington frustrasi.
Semua tombol ekonomi sudah ditekan, semua blokade sudah diberlakukan. Namun sistem Iran tidak tumbang.
Bahkan dalam banyak hal, sistem mereka justru menjadi semakin kebal. Dan inilah fakta yang paling menakutkan bagi Barat. Iran tidak butuh izin siapapun untuk tetap hidup. Pada tanggal 3 Januari 2020, dunia terhenyak.
0 Komentar