Foto :"Narasi yang selama ini dibangun Washington—bahwa kematian demonstran adalah akibat represif negara—dibongkar dari akarnya dengan menunjukkan bahwa warga sipil justru tewas ditembak, atau dibantai oleh kelompok perusuh bersenjata, bukan oleh aparat negara."(sc) REMOVESRAEL – Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang menuding Donald Trump bertanggung jawab atas jatuhnya warga sipil Iran sama sekali tidak dapat direduksi sebagai perang retorika antar pemimpin negara. Di titik inilah tampak kecerdasan strategis Ayatollah Khamenei: ia tidak membela diri secara normatif, melainkan memutar balik tudingan Barat dengan fakta lapangan.
Narasi yang selama ini dibangun Washington—bahwa kematian demonstran adalah akibat represif negara—dibongkar dari akarnya dengan menunjukkan bahwa warga sipil justru tewas ditembak, atau dibantai oleh kelompok perusuh bersenjata, bukan oleh aparat negara, dan bahwa kelompok inilah yang didanai serta diarahkan oleh jaringan yang berafiliasi dengan AS, Mossad, dan sekutu Baratnya.
Bagi seorang analis geopolitik, langkah ini merupakan artikulasi matang dari doktrin keamanan Iran: instabilitas domestik tertentu bukanlah gejala spontan, melainkan bagian dari arsitektur konflik tidak langsung (proxy conflict).
Dalam kerangka hybrid warfare, kebijakan “maximum pressure” era Trump tidak berhenti pada sanksi ekonomi, tetapi berlanjut pada rekayasa friksi sosial internal melalui perang informasi, infiltrasi aktor non-negara bersenjata, dan provokasi kekerasan yang sengaja diarahkan agar memicu korban sipil.
Ketika korban jatuh, narasi global sudah disiapkan: negara disudutkan, sementara arsitek kekacauan bersembunyi di balik jargon “demokrasi” dan “HAM”.
Di sinilah kejelian Ayatollah Khamenei bekerja. Ia tidak menyangkal adanya kematian warga sipil—justru sebaliknya, ia mengunci fakta sebab-akibatnya. Dengan menunjukkan bahwa korban tewas akibat tembakan atau pembantaian oleh perusuh bersenjata, Imam Khamenei membalik logika tuduhan: bukan negara yang membunuh rakyatnya, melainkan proyek destabilisasi yang memanfaatkan rakyat sebagai tumbal. Ini adalah strategi “naming the architect”, bukan menyalahkan operator lapangan.
Trump dan Barat ditunjukkan oleh Ayatollah Ali Khamenei sebagai perancang struktur kekerasan, bukan sebagai penonton yang kebetulan prihatin.
Lebih jauh, pembalikan narasi ini ditujukan ke dunia non-Barat yang semakin kritis terhadap standar ganda. Imam Khamenei menelanjangi sifat instrumental narasi HAM Washington: ketika korban sipil jatuh akibat jaringan bersenjata yang disokong Barat, tragedi itu direduksi menjadi “instabilitas internal”; ketika negara sasaran bertahan, ia dilabeli “represif”.
Dengan fakta kematian yang ditunjukkan secara terbalik—siapa membunuh siapa—Iran memindahkan beban moral dan politik ke pundak Barat.
Dari sudut pandang geopolitik internasional, ini bukan ledakan emosi, melainkan kalkulasi strategis berbasis bukti. Sayyid Ali Khamenei memutar tudingan Trump dan Barat bukan dengan slogan, melainkan dengan rekonstruksi fakta kekerasan: siapa pelaku, siapa korban, dan siapa arsiteknya.
Pesan kuncinya tegas—keamanan nasional Iran tidak hanya diancam oleh senjata di tangan perusuh, tetapi oleh arsitektur kekuasaan global yang memproduksi kekacauan lalu menuding korbannya sebagai pelaku.
Sumber: Tulisan Oleh Khusnul Yaqin melalui Facebook
0 Komentar