Foto :"Serangan ini terjadi di tengah pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon melalui penembakan dan serangan udara, laut, dan darat, yang mengakibatkan gugurnya puluhan warga Lebanon."(sc) REMOVESRAEL – Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon melalui penembakan dan serangan udara, laut, dan darat sejak perjanjian tersebut ditandatangani tahun lalu. Serangan Israel kali ini menggugurkan seorang pria dan istrinya serta melukai empat warga sipil dalam serangan pesawat nirawak di Lebanon selatan.
Dua orang gugur dan satu orang lainnya luka-luka akibat serangan pesawat nirawak Israel terhadap sebuah mobil di kota Zebdine, Nabatieh, Lebanon selatan, Senin (6/10).
Serangan ini terjadi di tengah pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon melalui penembakan dan serangan udara, laut, dan darat, yang mengakibatkan gugurnya puluhan warga Lebanon.
Radio militer Israel mengklaim serangan tersebut ditujukan terhadap kamp pelatihan militer Hizbullah dan depot senjata di Lembah Bekaa, manakala drone Israel terbang rendah di atas beberapa desa di Bekaa selatan dan barat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa hari yang lalu mengumumkan bahwa lebih dari 100 warga sipil gugur di Lebanon selatan akibat serangan Israel sejak gencatan senjata.
Bersamaan dengan serangan terbaru Israel, Dewan Menteri Lebanon, yang dipimpin oleh Presiden Joseph Aoun, menggelar rapat yang membahas berbagai topik, terutama penarikan bendera dan berita dari Asosiasi Resalat yang berafiliasi dengan Hizbullah serta rencana militer untuk pembatasan senjata hanya untuk negara.
Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Rodolphe Heikal menyampaikan laporan bulanan tentang rencana sentralisasi senjata dan hambatan yang menghalangi implementasinya.
Laporan pers juga menyebutkan bahwa Heikal berbicara tentang pelanggaran Israel dan hambatan yang dihadapi tentara Lebanon dari pihak Israel, di samping kerja sama antara Angkatan Bersenjata Lebanon dan UNIFIL.
Di pihak lain, Hizbullah menyatakan bahwa pemerintah Lebanon sebaiknya mempersenjatai tentaranya guna menghadapi Israel, daripada memonopoli senjata.
Hal ini dinyatakan oleh Anggota Parlemen Hassan Fadlallah, anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan, yang menekankan bahwa pemerintah saat ini “tidak dapat membuat keputusan sepihak tanpa melibatkan komponen lainnya, karena ada pasukan yang berpartisipasi dan mewakili komponen besar rakyat Lebanon.”
Fadlallah menekankan bahwa alih-alih memasukkan klausul yang membahas monopoli senjata, pemerintah sebaiknya mengkaji cara-cara untuk melindungi nyawa rakyat Lebanon.
Dia juga mengatakan, “Mereka yang meneriakkan slogan Perjanjian Taif hari ini adalah pihak pertama yang menentangnya dan menolak untuk melaksanakannya, terutama terkait penguatan Angkatan Bersenjata.”
Sumber : Al Alam
0 Komentar