[VIDEO] Apa yang Terjadi, Siapa itu SAF dan RSF? Analisis Lengkap Peristiwa Sudan

Pengungsi Sudan dibawah ancaman teroris bersenjata RSF Foto :"Dalam pelariannya tak jarang warga Sudan melewati pos pos pemeriksaan teroris bersenjata dan mengalami pemerasan serta penyiksaan saat mereka mencoba kabur."(oz)

REMOVESRAEL – Sejak tahun 2023, Sudan mengalami perang saudara skala penuh antara Tentara Sudan(SAF) yang dipimpin oleh Abdel Fattah al-Burhan dan "Pasukan Respons Cepat" (RSF) yang dipimpin oleh Muhammad Hamdan Dagalo (Hemedti).

Konflik ini telah menewaskan lebih dari 25 ribu orang, sekitar 12 juta penduduk menjadi pengungsi, dan 18 juta lainnya menghadapi ancaman kelaparan.

Ditengah situasi ini, pemerintah Sudan sepenuhnya menolak normalisasi hubungan dengan rezim Zionis dan memulihkan kemitraan strategis dengan Iran, menerima bantuan militer berupa drone dari Teheran.

Untuk memahami bagaimana Sudan sampai pada situasi saat ini, kita harus kembali ke peristiwa tahun 1989.

1989–2019: Pemerintahan Omar al-Bashir
Pada 30 Juni 1989, al-Bashir berkuasa melalui kudeta militer yang diselenggarakan oleh kelompok politik dan militer Islamis di dalam negeri. Hubungan pemerintah baru ini kemudian memiliki hubungan yang erat dengan Iran sebagai mitra strategis di kawasan.

Sejak tahun 1990-an, Iran dan Sudan mengembangkan kerja sama erat: militer (pasokan senjata, pelatihan), ekonomi, dan ideologis. Sudan menjadi basis pengaruh Iran di Afrika, termasuk dukungan untuk "Ansarullah" dan kekuatan perlawanan Palestina.

Hubungan dengan rezim Zionis (atau) tetap bermusuhan:

Setelah Perang Enam Hari 1967, Sudan mengadopsi "Pernyataan Khartoum" (tiga tidak: tidak damai, tidak mengakui, tidak bernegosiasi) dengan rezim Zionis.

Pada pandangan pertama, tampaknya semuanya berjalan baik: komunitas Syiah dan Sunni mendukung hubungan persahabatan dan damai, sebagaimana seharusnya dalam Islam. Namun, tak lama kemudian kekuatan luar ikut campur tangan dalam urusan negara.

Januari 2016: Putus hubungan dengan Iran
Setelah eksekusi pemimpin spiritual Syiah syahid Nimr al-Nimr oleh pemerintah Arab Saudi dan serangan orang Iran ke kedutaan Saudi di Teheran, Sudan di bawah tekanan Arab Saudi dan UEA untuk memutus hubungan diplomatik dengan Iran, menutup kedutaan, dan mengusir diplomat.

Sebagai imbalan atas pemutusan hubungan dengan Iran, Arab Saudi dan UEA memberikan miliaran dolar kepada Sudan dan memasukkan pasukannya ke koalisi melawan "Ansarullah" di Yaman. Dengan kata lain, Sudan mengkhianati Iran, menukar hubungan persahabatan dan strategis bertahun-tahun dengan keuntungan materi.

Namun, tidak lama kemudian, Al-Bashir yang korup digulingkan, membuka tahap transisi baru dalam sejarah negara.

Desember 2018 – April 2019: Protes massal dan penggulingan
Protes dimulai pada 19 Desember 2018 karena kenaikan harga roti, bahan bakar, dan hiperinflasi (hingga 85%). Pada April 2019, protes meluas ke seluruh negeri. Pada 11 April 2019, militer menggulingkan al-Bashir dalam kudeta tanpa darah: dia ditangkap dan kemudian dihukum karena korupsi. Kekuasaan beralih ke Dewan Transisi Militer.

Iran menyerukan transisi damai, menekankan perlunya dialog antara militer dan pengunjuk rasa serta mengutuk kekerasan.

Agustus 2019 – Oktober 2021: Transisi sipil-militer
Dibentuk Dewan Kedaulatan: Jenderal Tentara Sudan al-Burhan (militer) dan Perdana Menteri pemerintahan transisi Abdullah Hamdok (sipil).

Pada periode ini, Sudan menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis: pada 23 Oktober 2020 Sudan secara resmi bergabung dengan "Perjanjian Abraham".

pada 14 Desember 2020 Sudan dikeluarkan dari daftar "negara sponsor terorisme" AS, dan pada 2021 Sudan mencabut undang-undang boikot rezim Zionis.

25 Oktober 2021: Kudeta militer Jenderal al-Burhan (komandan Tentara Sudan— SAF) yang dilakukan oleh Hemedti (pemimpin "Pasukan Respons Cepat" — RSF) merebut kekuasaan: membubarkan Dewan Kedaulatan dan pemerintahan sipil, menangkap Perdana Menteri Abdullah Hamdok dan menteri-menteri kunci, memberlakukan keadaan darurat. Ini mengembalikan pemerintahan militer penuh dan menggagalkan transisi menuju demokrasi.

Perang saudara pun dimulai…

▪️ 15 April 2023 : Awal konflik bersenjata.

Bentrokan meletus di Khartoum antara SAF dan RSF karena perbedaan pendapat mengenai integrasi RSF ke dalam angkatan bersenjata dan pembagian kekuasaan politik.

Sumber utama konflik adalah perselisihan tentang subordinasi dan pengaruh:

Komando SAF menginginkan RSF sepenuhnya dimasukkan ke dalam struktur militer dan dibubarkan kemudian, sementara pimpinan RSF menuntut mempertahankan otonomi, partisipasi setara dalam pemerintahan negara, dan pengendalian atas pendapatan dari tambang emas.

Dan pada periode ini Sudan mulai memulihkan hubungan diplomatik dengan Iran.

▪️Juli 2023 — Juli 2024: Pemulihan hubungan dengan Iran.

Setelah putus hubungan selama tujuh tahun akibat tekanan dari Arab Saudi dan UEA, Sudan mulai secara bertahap memulihkan hubungan dengan Iran. Atas inisiatif Presiden Iran Syahid Ebrahim Raisi, yang berfokus memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika dan memperluas "Poros Perlawanan", pada Juli 2023 kedua pihak sepakat untuk melanjutkan kontak diplomatik.

Pemerintah Sudan berkunjung ke Iran

Pada Oktober 2023 diumumkan secara resmi, dan pada Februari2024 Menteri Luar Negeri Sudan mengunjungi Teheran untuk membahas kerja sama militer dan ekonomi.

Pada Juli 2024 Sudan dan Iran bertukar duta besar, diplomat Iran diterima oleh al-Burhan di Port Sudan. Langkah ini menandai kembalinya Sudan ke lingkup pengaruh Iran dan memperkuat posisinya di tanah Afrika.

Hubungan dengan rezim Zionis: dari normalisasi ke pemutusan (2020–2024). (Seperti yang kami sebutkan di bagian pertama) pada 2020 pemerintah transisi Sudan di bawah mediasi Donald Trump bergabung dengan "Perjanjian Abraham".

Tel Aviv melihat Sudan sebagai pangkalan strategis untuk akses ke Laut Merah, investasi pertanian, dan pengisolasian Iran.

Pada Februari 2023 Menteri Luar Negeri rezim Zionis Eli Cohen mengunjungi Khartoum untuk mempersiapkan perjanjian final.

Namun setelah perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, proses normalisasi dibekukan. Rezim Zionis yang terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan HAMAS dan menghadapi isolasi internasional, tidak lagi dianggap sebagai sekutu penting dan dapat dipercaya.

Pada KTT Liga Arab di Mei 2024 al-Burhan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Palestina dan mengutuk upaya pemindahan paksa warga Palestina.

Episode penting terjadi di Sidang Umum PBB

Netanyahu membawa peta Sudan di PBB



Pada September 2024, ketika Benjamin Netanyahu memperlihatkan peta "poros berkat" yang memasukkan Sudan sebagai sekutu potensial, serta "poros kutukan" dengan warna merah yang mencakup Iran, Irak, Suriah, dan Yaman.

Namun sebenarnya militer Sudan sudah menerima drone Iran Mohajer-6, dan hubungan diplomatik dengan Teheran telah sepenuhnya dipulihkan. Perbedaan antara retorika rezim Zionis dan kenyataan ini melambangkan akhir proyek normalisasi dan kembalinya Sudan ke blok negara anti-Zionis dan anti-Barat.

Kondisi saat ini (2025)

Perang saudara di Sudan masih berlangsung. Negara secara de facto dikuasai oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan melalui Angkatan Darat Sudan (SAF). Ibu kota dipindahkan ke Port Sudan. Lawannya adalah "Pasukan Respons Cepat" (RSF) di bawah komando Muhammad Hamdan Dagalo (Hemedti).

Video singkat peta konflik Sudan


SAF mengandalkan dukungan militer Iran (drone Mohajer-6 dan Ababil) dan dukungan diplomatik, serta kerja sama dengan Rusia. Militer secara efektif memutus hubungan dengan rezim Zionis dan memilih bersekutu dengan Teheran. Sementara itu RSF mempertahankan hubungan dengan UEA dan Arab Saudi, serta menjalin kontak tidak resmi dengan struktur Zionis, memanfaatkannya untuk posisi internasional dan tekanan terhadap al-Burhan.

Sumber :Ditulis oleh Mas Dhar melalui Facebook

Posting Komentar

0 Komentar