UEA Kirim Senjata ke Teroris RSF yang Berkedok Bantuan Kemanusiaan

Bantuan senjata dari UEA untuk teroris RSFFoto :"Setelah mengalami kekalahan di Khartoum, RSF kembali melancarkan operasi ofensif di wilayah Darfur. Pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal dengan nama Hemeti, memiliki hubungan yang erat dengan UEA."(ig)

REMOVESRAEL – UEA gandakan dukungan kepada kelompok teror RSF, hal ini diketahui dengan adanya peningkatan arus pasokan senjata dari UEA kepada kelompok teroris Sudan yang telah melakukan genosida di wilayah Darfur.

Pasokan senjata itu mencakup drone canggih, senjata ringan, senapan mesin berat, kendaraan militer, artileri, mortir, dan amunisi yang disamarkan(berkedok) sebagai bantuan kemanusiaan.

Dukungan UEA terhadap teroris RSF telah lama menjadi perhatian komunitas internasional. Banyak laporan yang menguatkan temuan eksklusif yang sebelumnya diungkap oleh Middle East Eye (MEE) mengenai peran UEA dalam konflik Sudan.

Pada Januari 2024, MEE melaporkan bahwa UEA menyalurkan senjata kepada RSF melalui jaringan logistik dan aliansi yang membentang dari Libya, Chad, Uganda, hingga wilayah Somalia.

Pada Mei tahun yang sama, Amnesty International menemukan bahwa UEA mengirimkan senjata — termasuk bom berpemandu — ke wilayah Darfur, di mana RSF dilaporkan mengepung sejumlah kota.

Dalam pekan ini, pasukan RSF dilaporkan menyerbu kota El-Fasher di Darfur Utara, dan beredar rekaman yang menunjukkan para anggota bersenjata yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Penyerangan ke El-Fasher terjadi setelah perundingan damai yang difasilitasi AS gagal mencapai kesepakatan. Sumber yang dikutip MEE menyebut bahwa UEA, yang menjadi pendukung utama RSF, menolak membahas situasi di El-Fasher yang telah dikepung selama lebih dari 500 hari.

Perundingan itu resmi berakhir pada Jumat pekan lalu. Perang yang berlangsung sejak 15 april diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 3.900 orang.

Dukungan militer UEA terhadap RSF meningkat setelah Maret 2025, ketika tentara Sudan berhasil merebut kembali ibu kota Khartoum.

Pada Mei, MEE juga melaporkan bahwa UEA melancarkan serangan ke wilayah pelabuhan Sudan yang dikuasai pemerintah, dan melukai sejumlah teknisi asal Turki yang bekerja disana.

Setelah mengalami kekalahan di Khartoum, RSF kembali melancarkan operasi ofensif di wilayah Darfur. Pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal dengan nama Hemeti, memiliki hubungan yang erat dengan UEA.

Ia diketahui menjalankan jaringan bisnis besar di Dubai, dan menggunakan emirat tersebut sebagai pusat untuk menyelundupkan emas dari tambang-tambang di Darfur yang dikuasai pasukannya.

Sumber : MEE

Posting Komentar

0 Komentar