Proposal 20 Jadikan Trump Sebagai Pemimpin Negara-negara Muslim

Trump diangkat jadi pemimpin negara-negara muslimFoto:"Proposal 20 ini menegaskan bahwa Trump telah diangkat sebagai pemimpin negara-negara muslim yang berhak mengatur kebijakan apapun berdasarkan keinginan Israel.”(ft)

REMOVESRAEL – Rencana perdamaian terbaru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, menuai respons sinis dari warga Palestina.

Banyak warga menyebut proposal 20 poin tersebut sebagai “lelucon” yang gagal menyentuh akar persoalan, dan tidak menawarkan solusi nyata untuk mengakhiri penderitaan mereka.

“Jelas bahwa rencana ini tidak realistis,” ujar Ibrahim Joudeh (39), programmer komputer asal Rafah, kepada AFP dari kamp pengungsian di zona kemanusiaan Al Mawasi, Gaza selatan.

“Rencana ini disusun dengan syarat-syarat yang AS dan Israel tahu tidak akan pernah diterima oleh Hamas. Bagi kami, itu berarti perang dan penderitaan akan terus berlanjut,” kata Joudeh, yang kini kehilangan rumah akibat serangan militer sejak Mei lalu.

Deklarasi New York Serukan Hamas Letakkan Senjata

Rencana damai yang diumumkan pada Senin (29/9/2025) itu mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera oleh Hamas, pelucutan senjata kelompok bersenjata, hingga penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.

Trump juga mengusulkan pembentukan otoritas transisi pasca perang yang dipimpin oleh dirinya sendiri, (yang di amini oleh negara-negara mayoritas muslim) serta pengerahan pasukan stabilisasi internasional sementara.

Namun, isi proposal ini menegaskan bahwa Hamas dan kelompok bersenjata lainnya tidak akan memiliki peran apa pun dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung, disamping harus meletakkan senjata.

Warga Gaza tak percaya dengan Trump

Sejumlah warga Gaza mengaku pesimistis, menyebut rencana ini sebagai upaya menipu faksi Palestina agar membebaskan sandera tanpa imbalan perdamaian. “Ini semua manipulasi.

Apa artinya menyerahkan semua tahanan tanpa jaminan resmi untuk mengakhiri perang?” ujar Abu Mazen Nassar (52), pengungsi dari Gaza utara yang kini tinggal di Deir El Balah.

Baca Juga:
Begini Cara AS Menghinakan Penguasa Arab yang Haus Penghinaan

“Kami sebagai rakyat tidak akan menerima lelucon ini,” tambahnya. Di tengah suara pesimis, sebagian kecil warga tetap menyimpan harapan. Anas Sorour (31), pedagang kaki lima dari Khan Yunis yang juga mengungsi ke Al Mawasi, mengatakan bahwa dirinya masih ingin percaya pada perdamaian.

“Terlepas dari semua yang telah kami lalui dan hilang dalam perang ini... Saya masih memiliki harapan,” kata Sorour.

“Tidak ada perang yang abadi.

Kali ini saya sangat optimis, dan semoga ini akan menjadi momen kebahagiaan yang membuat kita melupakan rasa sakit dan penderitaan.”

Namun, sikap optimistis itu tidak dirasakan semua orang. Najwa Muslim (29), ibu rumah tangga yang kini tinggal di Gaza tengah setelah mengungsi dari Kota Gaza, mengaku telah kehilangan keyakinan pada segala bentuk kesepakatan.

“Saya tidak hanya kehilangan keyakinan pada kesepakatan ini; saya juga kehilangan keyakinan pada kehidupan,” ujarnya.

Pada hari yang sama dengan diumumkannya rencana damai, serangan Israel di Gaza kembali menewaskan sedikitnya 30 orang, menurut data badan pertahanan sipil Gaza yang dikelola Hamas.

Sumber : AFP

Posting Komentar

0 Komentar