Foto:"Fakta bahwa sekutu Israel, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat—yang sebagian besar mempersenjatai genosida Israel—memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB”(sc) REMOVESRAEL – Presiden Kolombia, Gustavo Petro menggebrak podium Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat menyampaikan pidato terakhir 'cukup berkata-kata' atas genosida di Gaza yang mengharukan di hadapan para pemimpin, kepala negara dan delegasi dunia.
Petro yang menjabat Presiden Kolombia sejak 2022 akan mengakhiri jabatannya pada tahun depan. Dalam pidatonya di Sidang Umum ke-80 PBB yang viral, Petro dengan keras menyebut Israel telah melakukan genosida di Gaza atas 'persetujuan' Amerika Serikat di bawah kendali Presiden Donald Trump, dan turut menyalahkan NATO sebagai kaki tangan genosida di Gaza.
"Trump tidak berbicara tentang demokrasi, ia tidak berbicara tentang krisis iklim, ia tidak berbicara tentang kehidupan, ia hanya mengancam dan membunuh serta membiarkan puluhan ribu orang terbunuh.
Tidak ada ras yang unggul, Tuan-tuan. Tidak ada umat pilihan Tuhan. Bukan Amerika Serikat atau Israel. Fundamentalis sayap kanan yang bodoh berpikir demikian. Umat pilihan Tuhan adalah seluruh umat manusia," kata Petro dalam potongan pidato dikutip dari akun Instagramnya.
"Dia menjadi kaki tangan dalam genosida, karena itu adalah genosida, dan kita harus meneriakkannya berulang-ulang. Majelis ini adalah saksi bisu dan kaki tangan genosida di dunia saat ini," seraya menambahkan bahwa negara-negara yang tak lagi memiliki kekuatan berkumpul di sini. Seberapa pun mereka bersikap, mereka telah diabaikan.
Kita harus berubah sekarang. Pertama-tama kita harus menghentikan genosida Gaza. Umat manusia tidak boleh membiarkan genosida terjadi lagi, atau genosida Netanyahu atau sekutunya di Amerika Serikat dan Eropa, membiarkan mereka bebas."
Seruan Petro untuk 'cukup berkata-kata' diperumit oleh fakta bahwa sekutu Israel, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat—yang sebagian besar mempersenjatai genosida Israel—memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB.
Seruan Intervensi Angkatan Bersenjata Internasional di Gaza
"Diplomasi telah mengakhiri perannya, Tuan-tuan, dalam kasus Gaza. Ia tidak mampu menyelesaikannya. Genosida harus dihentikan dengan apa yang mengikuti diplomasi, dengan suara Majelis Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan bukan dengan suara (veto) Dewan Keamanan, melainkan dengan Persatuan untuk Perdamaian Palestina, yang membentuk kekuatan bersenjata untuk membela kehidupan rakyat Palestina," kata Petro.
Petro menyerukan intervensi bersenjata internasional untuk mengakhiri genosida Israel yang telah berlangsung hampir dua tahun di Gaza.
"Kita membutuhkan pasukan yang kuat dari negara-negara yang tidak menerima genosida," ujar Petro, yang berada di tahun terakhir masa jabatannya dan dibatasi oleh hukum Kolombia untuk satu masa jabatan presiden, kepada para pemimpin dunia yang berkumpul di New York.
"Itulah sebabnya saya mengundang negara-negara di dunia dan rakyatnya, lebih dari segalanya, sebagai bagian integral dari kemanusiaan, untuk menyatukan senjata dan pasukan."
"Kita harus membebaskan Palestina," tegasnya.
"Saya mengundang pasukan Asia, bangsa Slavia yang hebat yang mengalahkan Hitler dengan kepahlawanan yang luar biasa, dan pasukan Amerika Latin BolĂvar."
"Kita sudah cukup bicara; saatnya untuk pedang kebebasan atau kematian BolĂvar," Petro berpendapat, merujuk pada pahlawan kemerdekaan Amerika Latin abad ke-19, SimĂłn BolĂvar.
Karena mereka tidak hanya akan mengebom Gaza, seperti yang telah mereka lakukan di Karibia, tetapi juga kemanusiaan, yang menyerukan kebebasan. Karena dari Washington dan NATO mereka membunuh demokrasi dan melahirkan kembali tirani dan totalitarianisme di tingkat global," ungkapnya.
Seruan Presiden Gustavo Petro untuk intervensi bersenjata di Palestina menggemakan seruan serupa dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang mengatakan bahwa negaranya bersedia menyediakan 20.000 tentara untuk pasukan bersenjata yang dapat dikerahkan di Gaza.
Delegasi Amerika Serikat meninggalkan aula Majelis Umum sebagai tanda protes terhadap kritik Presiden Kolombia terhadap rivalnya dari AS, Donald Trump.
Sumber :
0 Komentar