Foto :" Sepak terjang HTS penuh dengan darah, dalam foto rekam jejak Ahmed Al Sharaa (al Jolani) Presiden Baru Suriah terlihat sedang memamerkan potongan kepala korban yang dibunuhnya".(x) REMOVESRAEL – Meski nama Al Jolani dihapus dari daftar teroris oleh Amerika dan Eropa berkat pertemuannya dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS Barbara Leaf pada 20 Desember 2024 di Damaskus Suriah, tidak lantas membuat masyarakat dunia lupa akan masa lalunya yang kelam. Kekejaman demi kekejaman yang pernah dilakukannya tidak akan hilang begitu saja dari ingatan masyarakat akan rekam jejaknya sebagai teroris Suriah.
Berbagai arsip pemberitaan di media massa menunjukkan borok al-Jolani, baik yang dilakukan saat organisasinya masih bernama Jabhat al-Nusra, maupun setelah bernama HTS.
Kekejaman mereka terutama dilakukan terhadap kaum minoritas pemeluk agama lain, atau kelompok islam aliran non-Sunni di semenanjung Arab.
Setelah Liga Arab menekan Bashar untuk tidak merepresi oposisi sepanjang 2011-2012, Al-Nusra yang beroperasi di sekitar perbatasan Turki berkembang menjadi lebih kuat, berkat aliran senjata ilegal dari perbatasan Turki.
Mulai di atas angin, al-Jolani dan kelompok Al-Nusra pun melakukan berbagai pembantaian. Pembantaian perdana terjadi di Hatla, Deir ez-Zour pada 11 Juni 2013, di mana 60 warga Syiah dibantai.
Pola pembantaian berbasis sektarian ini mengulang insiden serupa pada 11 Desember 2012 di desa Aqrab. Saat itu korbannya adalah kaum Alawi (penganut Islam sempalan Syiah yang secara fikih dekat dengan Sunni).
Baca Juga:
▪️ Media Zionis Bocorkan Agenda Pertemuan Penguasa Baru Suriah dengan Netanyahu
Pembantaian selanjutnya adalah Khan al-Assal, kota yang terletak 14 kilometer dari Aleppo. Al-Nusra membantai 51 tentara Suriah dan puluhan penduduk sipil yang menyerah, dan mengupload video korban pembantaian tersebut.
Sebelumnya, kota ini diserang gas sarin yang merenggut nyawa tentara Suriah dan penduduk setempat. Namun seperti yang sudah-sudah, al-Nusra menyalahkan rezim Bashar Assad sebagai pelaku serangan gas kimia.
Warga Non-Muslim Juga Dibantai
Setelah membunuhi warga muslim minoritas, target al-Jolani selanjutnya adalah warga non-muslim minoritas. Lokasinya di Adra, kawasan industri terbesar di Suriah yang terletak di Douma.
Pembantaian berlangsung pada 11 Desember 2013, di mana Al-Nusra dan Jaish al-Islam berhasil menelusup ke dalam kota tersebut, dan membantai kaum Alawi, Kristen, Druze, dan Syiah.
Rezim Suriah sempat dituding sebagai dalang di balik pembunuhan tersebut, tetapi temuan di lapangan berkata lain sehingga media Barat seperti BBC pun melaporkan kekejian itu.
Pada 25 April 2015, al-Nusra berhasil menguasai Jisr al-Shughour, di Idlib. Mereka membersihkan sebuah desa bernama Eshtabraq, yang mayoritas penduduknya adalah muslim Alawi. Sebanyak 200 orang warga sipil dibantai.
Dua bulan kemudian, mereka menyasar Qalb Lawza, masih di wilayah Idlib, yang dihuni warga Druze. Sebanyak 23 orang dibunuh. Di kemudian hari, Idlib mereka jadikan sebagai basis pertahanan.
Dari aksi-aksi teror tersebut lah mereka membangun kekuatan di Idlib, didukung Liga Arab—khususnya Qatar—secara diplomatik, dan didukung Turki secara militer. Di belakangnya, Amerika mengawasi.
Maka, bukanlah sebuah kebetulan jika pejabat kedua negara tersebut menjadi yang pertama mengunjungi al-Jolani di Damaskus. Amerika dan Inggris menyusul di barisan selanjutnya.
Sumber : The Stanceid
0 Komentar