Inilah Kenapa Semua Skenario AS dan Barat Untuk Hancurkan Iran selalu Gagal

pangkalan AS di Irak Hancur Lebur dihantam rudal Iran Foto :"IRGC meluncurkan sedikitnya 15 rudal balistik ke pangkalan udara Ayn al-Asad di Kegubernuran Al Anbar, Irak Barat, serta pangkalan udara lain di Erbil, Kurdistan Irak pada 8 Januari 2020, sebagai tanggapan terhadap pembunuhan Mayor Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh pasukan Amerika Serikat."(sc)

Bagian 3

REMOVESRAEL – Di Bandara Internasional Baghdad, konvoi kendaraan sipil dihantam oleh rudal dari drone MQ9 Riper milik Amerika Serikat. Di dalamnya seorang pria berkebangsaan Iran tewas seketika.

Namanya Jenderal Qasem Soleimani. Bagi Washington, serangan ini adalah sebuah kemenangan telak.

Mereka yakin telah memenggal kepala jaringan proxsi Iran. Namun bagi Iran, kematian Soleimani justru membangkitkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar dendam. Qasem Soleimani bukan jenderal biasa.

Dia bukan pemimpin pasukan di medan perang, tapi arsitek perlawanan lintas negara. Selama dua dekade dia membangun jaringan milisi di Irak, mempersenjatai Hizbullah, menopang Assad di Suriah, melatih Hauti di Yaman, dan bahkan membantu mengusir ISIS dari Mosul.

Washington tahu selama Soleimani hidup, pengaruh Iran di Timur Tengah tidak akan bisa dipatahkan. Karena itu mereka memilih jalan pintas, membunuhnya.

Namun reaksi yang muncul adalah sesuatu yang tak pernah diperkirakan Amerika. Di Iran, jutaan orang turun ke jalan dalam prosesi pemakaman yang belum pernah terjadi sejak era imam Khomeini. Ini bukan sekadar ungkapan duka, melainkan deklarasi kemarahan.

Di Baghdad, Basra, Beirut, bahkan Kabul, suara yang sama menggema.

"Kematianmu tidak akan menghentikan kami, dan Iran tidak tinggal diam."

Hanya dalam waktu 5 hari, Teheran melancarkan serangan langsung ke pangkalan militer Amerika di Ain Al-Assad, Irak. Belasan rudal balistik ditembakkan.

Ini bukanlah serangan proxi, bukan pula operasi rahasia. Ini adalah serangan terbuka antar negara yang secara terang-terangan dilakukan oleh negara yang selama ini dianggap terlalu takut untuk menyerang Amerika secara frontal.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pasca perang dunia kedua, markas militer Amerika Serikat diserang langsung oleh negara yang mengakuinya secara resmi dan Amerika tidak membalas.

Washington sempat menyebut tidak ada korban jiwa. Namun, beberapa hari kemudian mereka terpaksa mengakui bahwa lebih dari 100 tentara Amerika Serikat mengalami cedera otak traumatis akibat ledakan rudal.

Fakta ini membuka luka yang selama ini ditutup bahwa keunggulan militer Amerika tidak selalu berarti kekebalan. Kematian Soleimani tidak bisa menghentikan jaringan Iran. Justru sebaliknya, nama Suleimani kini menjadi bendera perlawanan baru. Di pos milisi Irak, di poster Hizbullah, di drone Haiti.

Baca Juga:
▪️ [VIDEO]Testimoni, Pangkalan AS di Irak Hancur Lebur di rudal Iran

Wajahnya dicetak besar-besaran. Ia telah menjelma menjadi simbol abadi bahwa seorang manusia bisa dibunuh, tetapi gagasan yang ia perjuangkan tidak akan pernah mati.

Dan lebih dari itu, dunia menyaksikan sesuatu yang tak biasa. Sebuah negara berani membalas Amerika secara terbuka dan bertahan dari konsekuensinya. Ini adalah pukulan moral terbesar bagi kekuatan global Washington.

Karena sejak saat itu batas ketakutan mulai bergeser. Jika Iran bisa membalas dan tetap berdiri maka siapapun bisa. Amerika mungkin berhasil membunuh seorang jenderal. Tetapi dalam proses itu, mereka justru melahirkan martir yang kekuatannya jauh lebih mengakar dari sebelumnya.

Dari luar Iran tampak sendiri mereka tidak masuk dalam J20, bukan anggota NATO. Diboikot Uni Eropa, dimusuhi Amerika, dibenci Israel, dan dicurigai banyak negara Arab.

Namun di balik bayang-bayang isolasi itu, Iran bermain di papan catur yang jauh lebih dalam. Teheran menyadari mereka tidak akan pernah diterima di meja perjamuan barat.

Maka mereka menciptakan meja sendiri. Pasca pembunuhan Jenderal Soleimani dan runtuhnya kesepakatan nuklir JCPOA, Iran mengubah arah diplomasi luar negerinya. Mereka berhenti mengejar pengakuan dari Eropa dan mulai membangun aliansi berbasis resistensi dan kepentingan bersama tanpa menunggu persetujuan Barat.

Hubungan dengan Rusia semakin erat. Mereka bukan hanya sekutu strategis, melainkan partner militer yang saling menguntungkan. Ketika Barat sibuk menjatuhkan sanksi ke Moskow karena invasi Ukraina, Iran justru mengirim drone syahid ke garis depan perang.

Sebaliknya, Rusia memberikan dukungan teknologi militer dan intelijen. Mereka tidak hanya bertukar senjata, tetapi saling memperkuat posisi tawar terhadap dominasi dolar dan NATO. Dengan Cina, Iran menjalin hubungan yang lebih dalam lagi.

Pada tahun 2021, mereka menandatangani perjanjian kerja sama strategis selama 25 tahun senilai 400 miliar dolar.

Ini bukan sekadar kesepakatan soal minyak murah dan infrastruktur. Ini adalah sinyal bagi dunia bahwa ada poros baru di Asia yang tidak membutuhkan restu dari Washington.

Bukan hanya dengan negara-negara besar, Iran juga memperluas pengaruhnya ke negara-negara yang juga menjadi korban dominasi Barat seperti Venezuela, Suriah, Bolivia, bahkan Korea Utara.

Mereka saling barter, saling membantu, dan saling melindungi di forum internasional. Iran mungkin tidak duduk di pusat kekuasaan global, tapi mereka memiliki jaringan politik alternatif yang semakin kuat.

Iran juga aktif di organisasi non Barat seperti SCO, Shanghai Corporation Organization dan belakangan ini mulai merapat ke bricks, blok ekonomi yang ingin menyaingi dominasi IMF dan Bank Dunia.

Semua ini dilakukan bukan untuk jadi kekuatan dunia seperti Amerika, tapi untuk meruntuhkan tatanan dunia yang dibangun oleh Amerika. Dan yang paling unik dari diplomasi Iran adalah ini.

Mereka tidak pernah berdiplomasi dengan rasa rendah diri. Mereka tidak datang ke forum internasional untuk meminta bantuan atau belas kasihan.

Mereka datang dengan narasi, "Kami bertahan, kami punya kekuatan dan kami tidak tunduk." Ketika negara-negara teluk menormalisasi hubungan dengan Israel demi jaminan keamanan dari Amerika Serikat, Iran memilih tetap berada di luar. Bukan karena mereka tidak bisa melakukannya, melainkan karena mereka memilih berdiri di sisi yang berseberangan.

Bagi Iran, diplomasi bukanlah soal berbaikan, melainkan soal menjaga harga diri dan posisi tawar. Iran bisa diserang, bisa diblokade, bisa dicap sebagai teroris, bisa dihancurkan ekonominya.

Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dihancurkan dari negara ini, yaitu ideologinya. Dan justru di sinilah letak senjata Iran yang paling berbahaya. bukan pada rudalnya, bukan pada proksinya, melainkan pada gagasan yang telah mereka usung sejak revolusi 1979. Bahwa dunia tak harus tunduk pada barat.

Bahwa satu negara kecil pun bisa melawan jika punya keyakinan dan keberanian. Inilah yang selama puluhan tahun membuat Barat sangat gelisah.

Karena musuh mereka bukan hanya pemerintahan Iran, tapi sebuah sistem keyakinan politik dan religius yang melampaui batas negara. Iran bukan hanya berbicara kepada rakyatnya sendiri, tetapi kepada umat dan bangsa yang tertindas di seluruh dunia.

Ketika para pemimpin Barat berbicara tentang demokrasi liberal dan kapitalisme, pemimpin Iran bicara soal istikamah, resistensi, dan kedaulatan sejati.

Pages: 1▪️ 2▪️ 3▪️ 4

Posting Komentar

0 Komentar