Drone Mahal MQ-4C Triton Milik AS Hilang di Wilayah Udara Teluk Persia Iran

Drone as hilang di Teluk Persia iranFoto :"Drone pengintai canggih US Navy, MQ-4C Triton (nombor 169660, tanda panggilan OVRLD1), dilaporkan hilang di wilayah udara Teluk Persia pada 22 Februari 2026 setelah mengirim sinyal darurat dan kemudian hilang dari pantauan radar. Drone mahal tersebut lepas landas dari Abu Dhabi dan hilang dari radar saat melakukan misi mata-mata di ketinggian 32,900 kaki, semakin meningkatkan ketegangan AS-Iran." (Defence Security Asia)

REMOVESRAEL — Sebuah drone intelijen dan pengawasan MQ-4C Triton milik U.S. Navy dilaporkan menghilang dari radar saat beroperasi di dekat Iran di atas Teluk Persia. Sebelum menghilang dari layar radar, drone tersebut dikabarkan mengirimkan sinyal ke stasiun kendali daratnya yang menunjukkan kemungkinan adanya gangguan elektronik.

Insiden ini memicu diskusi di kalangan komunitas intelijen sumber terbuka (OSINT). Sebelumnya, pada Juni 2019, Iran pernah menembak jatuh sebuah drone Triton. Namun dalam kasus ini, belum ada laporan yang terkonfirmasi mengenai peluncuran rudal darat- ke-udara.

Beberapa analis berspekulasi bahwa militer Iran atau IRGC mungkin menggunakan langkah peperangan elektronik untuk mengganggu atau merusak sistem kendali drone tersebut. Hingga saat ini, U.S. Navy belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Dan pada 22 Februari 2026, kembali sebuah Northrop Grumman MQ-4C Triton dilaporkan memancarkan sinyal darurat lalu hilang dari pelacakan ketika menjalankan misi pengintaian maritim di sekitar Teluk Persia.

Di kawasan seperti itu, hilangnya satu aset ISR strategis tidak pernah tinggal sebagai soal teknis. Ia otomatis menjadi peristiwa politik, karena setiap kekosongan informasi langsung diisi oleh perebutan tafsir: siapa yang diganggu, siapa yang mengganggu, dan siapa yang kini harus menunjukkan “ketegasan”.

MQ-4C Triton bukan drone kelas taktis yang bisa diperlakukan sebagai barang habis pakai. Ia adalah platform HALE maritime ISR: dirancang untuk terbang di atas 50.000 kaki, bertahan lebih dari 24 jam, dan beroperasi pada jangkauan sekitar 7.400 nautical miles, dengan peran utama pengawasan maritim luas menggunakan radar maritim AN/ZPY-3 MFAS (multi-function active sensor) yang memindai area permukaan laut secara besar-besaran.

Dengan kata lain, Triton adalah “mata” yang bukan hanya melihat, tetapi juga mengunci perilaku lawan: membuat kapal, pangkalan, dan pola pergerakan merasa sedang diawasi dan dihitung. Karena fungsi itu, hilangnya Triton setelah emergency signal memunculkan problem inti konflik modern: atribusi. Secara teknis, sinyal darurat dapat dipicu oleh kegagalan mesin, gangguan komunikasi, cuaca, atau kesalahan navigasi.

Namun dalam konflik abu-abu, opsi- opsi teknis segera berubah menjadi opsi politik: jamming, spoofing, atau engagement. Bahkan jika penyebabnya murni teknis, persepsi bahwa ada “tangan lawan” sudah cukup untuk mengubah kalkulus risiko. Di wilayah yang padat kecurigaan, yang mempercepat eskalasi sering bukan fakta final, melainkan keyakinan awal yang terlanjur dipeluk sebagai kebenaran.

Nilai ekonominya mempertebal bobot psikologisnya. “Harga” MQ-4C sering berbeda karena bergantung definisi. Jika yang dimaksud biaya unit yang lebih mendekati flyaway pada beberapa paket produksi awal, angka yang sering muncul ada di kisaran sekitar US$68 juta per unit. Dengan kurs sekitar Rp16.800 per US$1 (kisaran Februari 2026), ini setara kira-kira Rp1,14 triliun.

Namun dalam dokumen akuisisi resmi, angka per unit bisa jauh lebih besar karena memasukkan konfigurasi, integrasi, dukungan, dan struktur biaya program. Di level “average procurement unit cost”, angkanya bisa sekitar US$283,7 juta (sekitar Rp4,77 triliun).

Baca Juga:
▪️ [VIDEO] Iran Upgrade drone RQ-170 Sentinel yang Dibajak dari AS Menjadi Drone Tempur Canggih

Bahkan pada ukuran “program acquisition unit cost”, bisa mendekati US$498,7 juta (sekitar Rp8,38 triliun). Perbedaan definisi ini bukan detail akuntansi belaka: ia memengaruhi emosi publik, tekanan politik, dan skala “harga diri” yang dipertaruhkan saat respons dirumuskan.

Di sinilah spiral eskalasi bekerja. Operasi ISR dipersepsikan sebagai rutinitas defensif oleh satu pihak, tetapi bisa dibaca sebagai provokasi atau persiapan oleh pihak lain. Ketika sebuah platform pengawasan kelas strategis lenyap, negara yang mengoperasikannya menghadapi dilema reputasi: bila merespons lemah, lawan bisa menyimpulkan ruang operasionalnya dapat diganggu; bila merespons keras, insiden yang mungkin teknis dapat berubah menjadi krisis bersenjata.

Yang sering terjadi justru respons “tengah” yang tampak rasional namun berbahaya: patroli ditambah, aturan keterlibatan diperketat, pendampingan aset diperbesar. Kepadatan meningkat. Risiko salah sentuh berikutnya naik. Teluk Persia bukan ruang netral. Ia adalah ruang sempit dengan kepentingan global, terutama karena kedekatannya dengan jalur energi dan simbol kedaulatan.

Dalam ruang seperti ini, insiden kecil dapat memicu efek rambatan yang besar: harga risiko naik, kalkulus asuransi berubah, dan negara-negara pihak ketiga ikut menyesuaikan langkah. Karena itu, yang paling berbahaya dari episode 22 Februari 2026 bukan semata “hilangnya drone”, melainkan kabut atribusi yang mendorong keputusan di bawah tekanan reputasi.

Pelajaran paling kerasnya: stabilitas tidak runtuh hanya oleh tembakan, tetapi oleh kecenderungan mengunci narasi sebelum bukti. Jika disiplin atribusi runtuh, satu sinyal darurat bisa ditafsir sebagai penghinaan yang wajib dibalas, bukan sebagai kejadian yang wajib diverifikasi.

Dan ketika balasan menjadi refleks, yang benar-benar hilang bukan hanya MQ-4C Triton, melainkan ruang waras yang mencegah eskalasi tak disengaja berubah menjadi konflik terbuka.

Sumber : Tulisan Firman Chakim on Facebook

Posting Komentar

0 Komentar