AS Terapkan Hukum Rimba, Tangkap Maduro, Hari Ini Venezuela, Besok Siapa?

Presiden AS terapkan hukum rimba Foto :"Dunia dipaksa melihat fakta pahit: Norma internasional dan diplomasi sopan sudah ditinggalkan. Negara adidaya kini bergerak terang-terangan menggunakan otot militer demi kepentingannya."(sc)

REMOVESRAEL – Penangkapan Presiden Venezuela oleh militer Amerika Serikat bukan sekadar berita kriminal internasional, tapi sebuah deklarasi mengerikan bahwa "Hukum Rimba" telah resmi berlaku kembali. Yang kuat memangsa yang lemah. Tanpa mandat PBB, seorang kepala negara berdaulat diculik di tanah airnya sendiri. Jika Venezuela bisa diperlakukan begini, lantas negara mana yang aman? Hari ini Venezuela, besok bisa jadi giliran negara lain yang "berani" melawan atau memiliki kekayaan alam yang diincar.

Pesan Maut: Kedaulatan Bisa Ditembus Senjata

Dunia dipaksa melihat fakta pahit: Norma internasional dan diplomasi sopan sudah ditinggalkan. Negara adidaya kini bergerak terang-terangan menggunakan otot militer demi kepentingannya. Dalihnya bisa apa saja, narkoba, terorisme, atau demokrasi, tapi metodenya tetap sama: invasi dan paksaan senjata. Ini adalah sinyal bahaya bahwa kedaulatan negara tidak lagi absolut di hadapan moncong meriam Amerika.

Minyak 300 Miliar Barel: Magnet Bencana

Kenapa Maduro? Jawabannya ada di perut bumi Venezuela yang menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia (300 miliar barel). Dunia energi melihat ini bukan sebagai isu moral pemberantasan narkoba, tapi sebagai perebutan kontrol pasokan. Sejarah membuktikan, kombinasi "salah urus negara" dan "kekayaan alam melimpah" seringkali mengundang intervensi asing yang berujung pada penjajahan gaya baru.

Alarm Bahaya Bagi Indonesia

Indonesia harus membaca peta ini dengan jernih. Kita punya Nikel, Emas, Batubara, dan posisi strategis. Dalam dunia yang kembali menghalalkan kekuatan, kekayaan alam kita bisa berubah dari anugerah menjadi "kutukan" jika tidak dijaga dengan diplomasi cerdik dan kekuatan pertahanan yang mumpuni. Kita tidak boleh naif, risiko intervensi asing dengan dalih-dalih buatan selalu mengintai di depan mata.

Disadur dari : Catatan Pemred Suara Surabaya

Posting Komentar

0 Komentar