Foto:"Kwik mengatakan, "Indonesia itu memang direkayasa, memang di engenir oleh kekuatan asing untuk menjadi terpuruk, untuk menjadi bangkrut. Seorang agen CIA yang diperintah untuk pergi ke Indonesia..."(sc) REMOVESRAEL – Ahli ekonomi Indonesia (alm) Kwik Kian Gie saat itu secara terbuka mempertanyakan dan mengkritik intervensi IMF dalam letter of intent yang memberikan banyak tekanan soal kebijakan fiskal dan privatisasi BUMN. Kwik berpendapat bahwa bantuan dari IMF tidak akan dapat menyelesaikan masalah ekonomi Indonesia, alih - alih justru menambah ketergantungan negara pada kreditor asing.
Kwik Kian Gie, ketika menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri di era Presiden Abdurrahman Wahid, mengaku bahwa dirinya diserang terus oleh mereka yang disebut "Mafia Berkeley",yaitu sekelompok ekonom lulusan UC-Berkeley AS yang memiliki pemikiran liberal dan cenderung mengabaikan ekonomi kerakyatan, sampai dia jatuh, ketika Gus Dur presiden dan Gus Dur juga ditekan habis-habisan oleh dunia internasional maupun di dalam negeri," kata Kwik.
Kwik mengatakan, "Indonesia itu memang direkayasa, memang di engenir oleh kekuatan asing untuk menjadi terpuruk, untuk menjadi bangkrut. Seorang agen CIA yang diperintah untuk pergi ke Indonesia dengan menciptakan proyek yang sangat besar dengan pembiayaan dari hutang luar negeri, berikan justifikasi atau pembenaran bahwa proyek itu sangat penting. Kalkulasikan untung yang sebesar-besarnya, bangkrutkan Indonesia setelah hutang itu kembali ke perusahaan-perusahaan asing."
Kwik Kian Gie dilantik sebagai Menko Ekuin Kabinet Persatuan Nasional pada 29 Oktober 1999, hanya 19 bulan setelah kurs rupiah terhadap US Dollar melemah pada level: Rp 16.900. Indonesia saat itu masih berada dalam bayang - bayang krisis ekonomi yang melanda sejak tahun 1997.
Kwik secara logis dan kritis menyampaikan gagasan mengenai pentingnya ekonomi yang berdaulat. Kwik berpendapat bantuan luar negeri dari berbagai lembaga kreditor asing saat itu sejatinya adalah 'jebakan' yang akan mengakibatkan negara lama-kelamaan kehilangan kendali dan kedaulatan atas ekonominya sendiri.
Sumber :Youtube tvone
0 Komentar