Foto:“Militer Israel menyerang tank-tank Suriah pada hari Senin dan terus melancarkan puluhan serangan pesawat tak berawak terhadap pasukan Joulani, menewaskan beberapa tentara.”(sc) REMOVESRAEL – Pasukan Penjajah Israel(IOF) menyerang Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus. Yang menarik serangan itu ditujukan kepada sekutunya sendiri yang telah berjasa ikut membantu Israel mencaplok wilayah Suriah.
Serangan Israel tersebut dilakukan sebanyak dua kali pada Rabu 16 Juli 2025. Serangan Israel yang mematikan itu ditujukan untuk mengintervensi bentrokan antara pasukan dibawah kepimpinan Joulani untuk Suriah baru dan pejuang Druze di Suriah selatan.
“Serangan Israel itu meruntuhkan empat lantai kementerian dan merusak semua fasilitas didalamnya. Serangan tersebut juga menewaskan beberapa orang dan melukai 18 lainnya,” kata pejabat di kementerian pimpinan Al Joulani, seperti dikutip AFP, Kamis 17 Juli 2025.
Ini adalah pertama kalinya Israel menargetkan Damaskus (yang saat ini menjadi sekutunya sendiri) sejak Mei dan dilakukan selama tiga hari berturut-turut angkatan udara Zionis melancarkan serangan terhadap militer Suriah.
Seorang juru bicara militer Israel mengatakan, serangan terhadap Kementerian Pertahanan tersebut merupakan pesan kepada Presiden Suriah, Abu Muhammad Al Joulani yang kini berganti nama menjadi Ahmed al-Sharaa "mengenai peristiwa di Suweyda".
Militer Israel menyerang tank-tank Suriah pada hari Senin dan terus melancarkan puluhan serangan pesawat tak berawak terhadap pasukan Joulani, menewaskan beberapa tentara.
Israel telah menyatakan tidak akan mengizinkan tentara Suriah ditempatkan di wilayah selatan negara itu, dan akan melindungi komunitas Druze dari pemerintah Damaskus. Banyak anggota komunitas Druze menolak klaim patronase Israel karena takut dianggap sebagai proksi asing.
Pengeboman Israel menambah kerumitan konflik yang sudah meningkat antara pasukan pemerintah Suriah dibawah kepemimpinan Joulani, suku-suku Arab Badui, dan pejuang Druze.
Lebih dari 250 orang tewas dalam bentrokan selama empat hari, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris. [FVS]
0 Komentar